Heniglah jiwaku,sebab langit takkan pernah mendengarku.Tenanglah,sebab kemenyan telah dibakar oleh tangisan kese diha.Ia takkan melahirkan simponi dan melodiku.Tenanglah sebab seringai malam tak mengindahkan misteri-misteri bisikanmu, dan arak-arakan takkan berhenti di depan mimpimu.
Heninglah jiwaku,tetaplah hening sampai fajar merah.Sebab barang siapa yang menanti dengan kesabaran,akan mene mukan fajar dengan sepenuh kekuatan.Siapa yang mencintai cahaya,akan dicintai cahaya maha cahaya.
Heninglah jiwaku,dan dengarkanlah aku bicara.Dalam mimpi kurenungi camar bersenandung,seolah-olah ia terbang rendah melintasi gunung api yang menghajar bumi.Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,kembang teratai mengeluarkan mahkotanya di atas salju.Kusaksikan dengan mata kepala,sejuta bidadari telanjang dada menari di antara makam.Kusaksikan sendiri anak-anak tertawa bermain dengan tengkorak iblis.
Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,semua ini dalam mimpi.Tatkala bangun dan menyaksikan diriku,kudengar camar bersenandung,namun tak terlihat gunung api meletus,bahkan juga tak kulihat mengeluarkan laharnya.
Kusaksikan dengan mata kepala,langit berhiaskan kabut,sawah-sawah dan lembah diselimuti serumpun teratai yang putih beku.Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,makam berbaris-baris,timbul di depan kesunyian zaman.Namun,tak kukira satu pun tak bergoyang menari,juga tak satu pun yang tertunduk berdoa.Kusaksikan dengan mata kepalaku tengkorak segunung,namun tak satu pun yang tertawa kecuali angin lalu.
Terbangun,yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,hanya kesedihan & duka,kemana perginya mimpi-mimpi kesenangan dan kegembiraan tadi?Kenapa kemegahan mimpi-mimpi itu sirna dan bagaimana mungkin pemandangan-peman dangan itu lenyap?Bagaimana jiwa dapat bertahan sampai hantu sampai keinginan dan harapannya bangun dalam tidurnya?
Dengarkanlah hatiku,dan dengarkanlah aku bicara.Kemarin jiwaku laksana pohon tua yang kuat,menebarkan akar-akarnya ke kedalaman tanah dan mengeluarkan ranting-rantingnya menuju ketakterbatasan.Jiwaku mekar kala musim semi, melahirkan buah di musim panas.Di musim gugur kurajut buahnya dalam cawan perak dan menaruhnya di tengah jalan. Orang-orang yang telah berlalu akan mengambil dan memakainya,lalu pergi meneruskan perjalanan hatinya.
Tatkala musim gugur berakhir dan lagu pujian berubah menjadi simponi kematian,kudapati oarang-orang telah meninggalkan satu buah saja di cawan perakku.Kuambil,kurenyah dan kunikmati pahitnya bagai bratawali,kecut laksana mangga muda.Kukatakan pada diriku,"Kesengsaraanku untukku,sebab aku telah menaruh pepali dimulut manusia dan kutukan di perut mereka.Apa yang telah kau lakukan,jiwaku,dengan kemanisan yang telah dihisap akar-akarmu dari isi kandungan bumi,dengan keharuman yang telah diminum daun-daunmu dari cahaya mentari?"Lalu kurobohkan pohon itu dan kuat itu dari jiwa kerdilku.
Akar-akarnya kupotongi dari tanah tempat ia berakar dan tumbuh subur.Kupatahkan akar-akarnya dari masa lalu, mengenai sejuta musim semi dan sejuta musim gugur.Lalu kutanam benih pohon jiwaku sekali lagi di taman lain.Kutanam di sebuah taman yang jauh dari lorong waktu.Kujaga malamku di sampingnya,seraya berkata,"Demi sang penjaga malam, angkutlah kami ke dekat bintang-bintang gemerlap."
Kusirami dengan darah dan air mataku,seraya berkata,"Ada wewangian dalam darah dan air mata."Tatkala musim semi tiba,kurajut buahnya yang sudah matang di cawan emas dan kubaringkan di tengah-tengah jalan.Hatiku bersenandung mesra.Orang-orang telah berlalu,satu persatu dalam setiap bagian,akan tetapi tak seorang pun mengambil tawaran itu dengan menjulurkan tangannya.
Lalu,kuambil buahnya dan kumakan,kurasakan manisnya bagai madu terbaik,lezat bagai musim semi surga,sedap bagai madu Mesir,harum bagai wewangian melati.Aku berteriak,"Orang-orang tak menginginkan berkah di mulut mereka atau kebenaran di perut mereka,sebab karunia merupakan anak air mata,dan kebenaran merupakan anak darah!"
Dan aku berpaling lalu duduk di bawah naungan pohon jiwaku yang kesepian disebuah taman yang jauh dari lorong waktu.Tenanglah,sebab langit dilawan oleh bau busuk kematian yang tak dapat lagi minum dari nafasmu.
Dengarlah dinding hatiku,dengarkan aku bicara.Kemarin pikiranku adalah sebuah perahu yang dilambungkan oleh gelombang samudra dan dikendalikan oleh tiupan angin dari pantai ke pantai.Perahu pikiranku tak ada isinya kecuali 7 cawan yang dipenuhi aneka warna,secemerlang warna pelangi.Datang saatnya aku lelah berjalan diatas laut dan berkata,"Aku akan pulang dengan perahu pikiranku yang kosong ke dermaga kota tempat aku dilahirkan."
Aku mulai menghias dinding perahuku dengan warna-warna mentari kuning,musim semi hijau,kubah langit biru dan senja berwarna merah.Di layar dan dikemudinya kugambari jasad yang menakjubkan,dengan mata yang mempesona dan pandangan yang menyenangkan.Tatkala pekerjaanku hampir selesai,perahu pikiranku menyerupai pandangan seorang Nabi, beredar dikeluasan laut dan langit.
Aku masuki dermaga kotaku,dan orang-orang keluar untuk bersua denganku dengan ucapan terima kasih dan pujian. Mereka mengarakku ke dalam kota,menabuh genderang dan meniup terompet sang kala.
Mereka lakukan ini semua karena diluar perahuku dihiasi dengan gemerlap,akan tetapi tak seorang pun mau masuk kedalam perahuku.Tak seorang bertanya apa yang kau bawa dari laut yang jauh.Tak seorang tahu kenapa aku pulang ke der maga dengan perahu kosongku.Lalu aku berkata pada diriku,"Aku telah menyusahkan orang-orang,dan dengan 7 cawan itu aku telah menipu mata mereka."Sesudah itu aku naik ke perahu pikiranku dan untuk kedua kalinya manuju laut.
Aku telah berlayar ke pulau-pulau kecil-mengecil di Timur dan memenuhi perahuku dengan asap aromatheraphy,gaha ru dan harum cendana.Aku berlayar ke pulau-pulau kecil-mengecil di Barat,dengan membawa pulang emas dan batu delima, juga segala logam-logam mulia.Dari pulau-pulau kecil-mengecil di Utara,aku pulang dengan membawa sutra dan busana sula man hitam.Dari pulau-pulau kecil-mengecil di Selatan,aku pulang dengan membawa pedang-pedang yang tajam,tombak-tom bak yang panjang dan segla jenis senjata.Kuisi perahu pikiranku dengan perbendaharaan dan rasa ingin tahu dari bumi,lalu kembali ke dermaga kotaku,seraya berkata,"Orang-orang akan memujiku dan itu sudah selayaknya.Mereka akan mengaraku masuk ke kota dengan bersenandung dan meniup terompet,dan itu sudah sepantasnya."
Namun,tatkala aku mencapai dermaga tak seorang pun keluar untuk menemuiku.Tatkala aku memasuki jalan-jalan kota,tak seorang memperdulikanku.Aku berdiri tegak di alun-alun memaki mereka yang pernah kubawakan buah-buahan dan kekayaan bumi lainnya.Orang-orang itu menatapku,mulut mereka penuh cemooh,muka mereka penuh ejekan.Lalu,mereka pun manjauhiku dalam pedih dan perih.
Aku pulang ke dermaga,kecewa & cemas.Lebih lama kupandangi perahu kecilku daripada menyaksikan perjuangan& cita-cita yang tersimpan dalam jiwaku.Aku tersedu,"Gelombang samudra telah membasuh cat dan dinding-dinding perahuku, meninggalkan belulang yang sudah memutih dan sia-sia."Angin,badai,dan panas mentari telah menghapuskan jasad di layar, membuatnya laksana tersaput debu gulita.
Telah kurajut rasa penasaran akan kekayaan bumi ke dalam bahtera yang mengapung di atas permukaan air.Aku pulang kekampungku,akan tetapi orang-orang itu menampikku sebab mata orang-orang itu menampikku sebab mata orang-orang itu hanya mampu menyaksikan kulitnya saja.
Pada saat itu,kutinggalkan biduk pikiranku dan pergi ke kota kematian.Ak duduk diantara makam-makam berkapur, menghayati misteri semua ini.Heninglah jiwaku,sampai fajar menyingsing.Tenanglah,sebab badai yang gelisah mengejek ke dalaanmu dan gua-gua lembah takkan menggemakan suaramu.
Heninglah jiwaku sampai fajar,maka fajar akan merangkulmu penuh kerinduan.Fajar merah telah merekah,hatiku.Bica ralah jika kau mampu bicara.Inilah iring-iringan fajar,hatiku!Apakah malam yang hening akan tertahan di kedalaman hatimu untuk bersenandung menyambut fajar?
Lihatlah,sekawanan merpati dan camar berpencar melintasi langit.Akankah kebencian malam mengusikmu untuk terbang tinggi bersama mereka?Penggembala menggiring binatang ternak mereka dari kandang ke padang.Akankah hantu- hantu malam mengusikmu untuk mengikuti orang-orang itu ke padang-padang savana yang hijau?Para lelaki dan perawan lari-lari menuju taman madu.Kenapa kamu tidak bangun dan berjalan bersama mereka?
Bangunlah hatiku,bangun dan berjalanlah bersama embun fajar,sebab malam telah lalu.Hantu-hantu malam telah sirna dengan mimpi-mimpi pekatnya.Bangunlah hatiku dan nyanyikan suaramu dalam lagu,sebab hanya anak-anak kegela pan sajalah yang tak berhasil meninggal dengan syair simponi pujian sang fajar.
Contoh Pidato Islam
-
Pidato Menjadi Remaja Muslimah yang Baik
AssalamualaikumWr.Wb.
Yang terhormat Ibu Nurul selaku guru Bahasa Indonesia Serta teman-teman
yang saya cintai...
15 tahun yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar