Minggu, Agustus 09, 2009

Angin Kabut

Mentari pagi telah datang setelah malam yang penuh perenungan dan badai pasti berlalu.Langit terang,pohon-pohon,burung- burung dan alam semesta bersuka cita mandi sinar matahari.Talitha berjalan pulang ke istananya setelah membuang sedikit kalori tubuh pada pagi hari.Dalam perjalanan pulang itu,sang permaisuri merasakan bangunnya jiwa seperti yang telah dikatakan oleh Victo.Gemetarnya tubuh sang permaisuri pasti kelihatan.Saat Talitha tenang kembali,yang dia rasakan hanyalah keindahan dan kekaguman.
Ketika sampai di daerah keramaian dan menyaksikan perbuatan serta suara-suara mereka,aku berhenti dan berkata dalam hati,"Ya,bangunnya jiwa merupakan sesuatu yang wajib bagi manusia,bahkan mungkin tujuan hidup itu sendiri.Tapi,bukankah peradaban dengan segala ketakaburannya,justru menjadi salah satu sebab bangunnya jiwa itu?Aku ragu bagaimana kita dapat survive dari badai yang menerjang dan dari suatu peradaban,sedangkan keberadaannya itu adalah bukti bagi kebenarannya? Mungkin peradaban yang sekarang ini hanyalah sebuah peristiwa yang telah berlalu begitu saja,akan tetapi hukum yang kekal membuat peristiwa itu menjadi anak tangga untuk meniti jalan menuju hakikat kebahagiaan."
Samapi saat ini aku tak pernah lagi menyaksikan lelaki miskin itu.Upayaku untuk merawat penyakit peradaban telah mem buangku dari negriku di akhir bulan Oktober tahun 2007 itu ke sebuah negri jauh yang badainya tak seberapa hebat.Sang Permaisuri menjalani hidup baru di negri itu.Mungkin semacam gila hormat,sebab orang-orangnya pun sungguh menyedihkan.

0 komentar:

Posting Komentar