Kamis, September 17, 2009

Anak Kecil Kesepian

Aku adalah perempuan.Di gubukku yang terasing ini terdapat setumpuk sepi yang penuuh amarah dan sunyi yang menyakitkan.
Namun itu membuatku berpikir mengenai sesosok impian yang tak kukenal.Orang-orang mengasingkan mimpiku dengan ilusi dari tanah jauh yang tak pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
Aku adalah orang asing bagi Dia.Jika aku bersua,aku berkata pada jiwaku,"Siapakah itu?Bagaimana aku mengenalnya?Hubungan apa yang mengikatku dengannya?Bagaimana aku berhubungan dengannya?dan kenapa pula aku berhubungan dengannya?"
Aku adalah orang asing bagi jiwaku.Apabila kudengar lidahku bertutur,telingaku kaget mendengar suaraku,dan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,hakikat tertawa dan menangis tersedu-sedu,antara ragu dan bahagia.Kehidupanku tercengang dengan keberadaanku dan jiwaku senantiasa mencari arti sejati.Tapi dia tetap tersembunyi,terkunci,terbendung kabut,diselubungi kesunyian begitu pun aku.
Aku adalah orang asing bagi tubuhku.Bila aku berhenti didepan cermin,kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,makhluk yang tak kukenal,kusaksikan di mataku apa yang tak tersembunyi di kedalamanku.Kutempuh jalanan kota dan anak-anak mengikuti sambil bersorak,"Ia buta!Mari,kita beri ia tongkat untuk bertumpu."Tergesa-gesa aku berlari dair mereka,hanya untuk menemui kerumunan perawan-perawan yang bergelayut di busanaku dan berteriak,"Ia setuli batu!Mari kita isi telinganya dengan lagu-lagu penuh cumbu dan cinta."
Aku berlari menjauhi mereka dan berjumpa sekelompok anak muda.Mereka berdiri tegak mengelilingiku dan berkata,"Ia bisu bagai makam!Mari,kita uraikan lidahnya terdahulu!"Sambil merasa ketakutan,kutinggalka n orang-orang itu dan bersua dengan orang tua,menunjuk ke arahku dengan jemari yang bergetar."Ia orang gila!otaknya sudah rusak ditanah kotor dan berserak."
Aku adalah orang asing di dunia ini.Aku orang asing di dunia Timur dan Barat.Tak kutemukan tempat membaringkan tubuhku,juga tak kutemukan orang yang mengakui dan mendengarkan kata-kataku.Jikalah aku terbangun di pagi hari, kudapati diriku bagaikan tahanan di gua gelap,ular berbisa bergelantungan diatapnya,dn serangga lari-lari disudutnya.Jikalau aku keluar mencari cahaya,bayangan tubuhku mengikutiku dan citra jiwaku berjalan didepanku,menuntun diriku ketempat yg tak kukenal,mengikatku dengan sesuatu yang semu,mengundangku ke tempat yang ku tak mengerti sama sekali.
Tatkala malam tiba,kubaringkan diri diatas kasur dari tanduk kerbau dan bulu burung cendrawasih.Pikiran aneh menggodaku, menyenangkan lalu menyakitkan,menggembirakan lalu menggelisahkan.Di malam hari,seseorang yang akan dimasa lalu,lela ki yang akan terlupakan,datang padaku dari lorong-lorong gua.Kupandangi dia,dia juga melempar pandang kearahku.Aku berbicara padanya,mencoba mengerti,dan dia tersenyum.Kucoba kusentuh dia,akan tetapi dia sirna bagai asap disaput angin semarak.
Aku adalah orang asing di duniaku.Aku adalah orang asing dan tak ada seorang pun di dunia yang mengerti sepatah pun dari bahasa jiwaku.Aku memasuki belantara dan menyaksikan air sungai menggelembung dan berjingkat naik dari kedalaman lembah ke puncak-puncak bukit.Ku lihat dengan penuh kesadaran,pepohonan mengembang menjadi daun,kembang dan buah,lalu melepaskan dedaunannya,semua terjadi dalam sesaat.Lalu rantingnya gugur musnah bagaikan ular meliuk. Kusaksikan dengan jeli,burung-burung melambung naik dan turun,menukik dan bersenandung.Mereka hinggap didahan dan membuka sayapnya,beralih menjadi perawan-perawan telanjang,dengan rambut panjang terurai,kepala terjulur,menatapnya dengan penuh gairah dari belakang kelopak mata yang diwarnai celak seperti maumu.Mereka tersenyum padamu dan dengan bibir bagaikan delima merekah,menggapainya dengan tangan lembut dan diiringi wewangian kemenyan dan cendana.Mereka lau berlari ketakuan dan bersembunyi dari pandanganku,sinarnya bagai kabut gulita,menyisakan tawa yang menggema di udarauntuk mengejek dan memperolokku.
Aku adalah orang asing di dunia ini.Aku tetap akan menjadi seorang gadis sepi.Ku tulis pahit getir kehidupanku dalam bait-bait syair,dan sajak kehidupan dalam baris-baris puisi.Aku adalah anak kecil dan selalu akan menjadi anak kecil dimatamu hingga maut merenggut dan membawaku dan dia pulang ke kampung keabadian selamanya....

Rabu, Agustus 12, 2009

Night and Dawn

Heniglah jiwaku,sebab langit takkan pernah mendengarku.Tenanglah,sebab kemenyan telah dibakar oleh tangisan kese diha.Ia takkan melahirkan simponi dan melodiku.Tenanglah sebab seringai malam tak mengindahkan misteri-misteri bisikanmu, dan arak-arakan takkan berhenti di depan mimpimu.
Heninglah jiwaku,tetaplah hening sampai fajar merah.Sebab barang siapa yang menanti dengan kesabaran,akan mene mukan fajar dengan sepenuh kekuatan.Siapa yang mencintai cahaya,akan dicintai cahaya maha cahaya.
Heninglah jiwaku,dan dengarkanlah aku bicara.Dalam mimpi kurenungi camar bersenandung,seolah-olah ia terbang rendah melintasi gunung api yang menghajar bumi.Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,kembang teratai mengeluarkan mahkotanya di atas salju.Kusaksikan dengan mata kepala,sejuta bidadari telanjang dada menari di antara makam.Kusaksikan sendiri anak-anak tertawa bermain dengan tengkorak iblis.
Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,semua ini dalam mimpi.Tatkala bangun dan menyaksikan diriku,kudengar camar bersenandung,namun tak terlihat gunung api meletus,bahkan juga tak kulihat mengeluarkan laharnya.
Kusaksikan dengan mata kepala,langit berhiaskan kabut,sawah-sawah dan lembah diselimuti serumpun teratai yang putih beku.Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,makam berbaris-baris,timbul di depan kesunyian zaman.Namun,tak kukira satu pun tak bergoyang menari,juga tak satu pun yang tertunduk berdoa.Kusaksikan dengan mata kepalaku tengkorak segunung,namun tak satu pun yang tertawa kecuali angin lalu.
Terbangun,yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,hanya kesedihan & duka,kemana perginya mimpi-mimpi kesenangan dan kegembiraan tadi?Kenapa kemegahan mimpi-mimpi itu sirna dan bagaimana mungkin pemandangan-peman dangan itu lenyap?Bagaimana jiwa dapat bertahan sampai hantu sampai keinginan dan harapannya bangun dalam tidurnya?
Dengarkanlah hatiku,dan dengarkanlah aku bicara.Kemarin jiwaku laksana pohon tua yang kuat,menebarkan akar-akarnya ke kedalaman tanah dan mengeluarkan ranting-rantingnya menuju ketakterbatasan.Jiwaku mekar kala musim semi, melahirkan buah di musim panas.Di musim gugur kurajut buahnya dalam cawan perak dan menaruhnya di tengah jalan. Orang-orang yang telah berlalu akan mengambil dan memakainya,lalu pergi meneruskan perjalanan hatinya.
Tatkala musim gugur berakhir dan lagu pujian berubah menjadi simponi kematian,kudapati oarang-orang telah meninggalkan satu buah saja di cawan perakku.Kuambil,kurenyah dan kunikmati pahitnya bagai bratawali,kecut laksana mangga muda.Kukatakan pada diriku,"Kesengsaraanku untukku,sebab aku telah menaruh pepali dimulut manusia dan kutukan di perut mereka.Apa yang telah kau lakukan,jiwaku,dengan kemanisan yang telah dihisap akar-akarmu dari isi kandungan bumi,dengan keharuman yang telah diminum daun-daunmu dari cahaya mentari?"Lalu kurobohkan pohon itu dan kuat itu dari jiwa kerdilku.
Akar-akarnya kupotongi dari tanah tempat ia berakar dan tumbuh subur.Kupatahkan akar-akarnya dari masa lalu, mengenai sejuta musim semi dan sejuta musim gugur.Lalu kutanam benih pohon jiwaku sekali lagi di taman lain.Kutanam di sebuah taman yang jauh dari lorong waktu.Kujaga malamku di sampingnya,seraya berkata,"Demi sang penjaga malam, angkutlah kami ke dekat bintang-bintang gemerlap."
Kusirami dengan darah dan air mataku,seraya berkata,"Ada wewangian dalam darah dan air mata."Tatkala musim semi tiba,kurajut buahnya yang sudah matang di cawan emas dan kubaringkan di tengah-tengah jalan.Hatiku bersenandung mesra.Orang-orang telah berlalu,satu persatu dalam setiap bagian,akan tetapi tak seorang pun mengambil tawaran itu dengan menjulurkan tangannya.
Lalu,kuambil buahnya dan kumakan,kurasakan manisnya bagai madu terbaik,lezat bagai musim semi surga,sedap bagai madu Mesir,harum bagai wewangian melati.Aku berteriak,"Orang-orang tak menginginkan berkah di mulut mereka atau kebenaran di perut mereka,sebab karunia merupakan anak air mata,dan kebenaran merupakan anak darah!"
Dan aku berpaling lalu duduk di bawah naungan pohon jiwaku yang kesepian disebuah taman yang jauh dari lorong waktu.Tenanglah,sebab langit dilawan oleh bau busuk kematian yang tak dapat lagi minum dari nafasmu.
Dengarlah dinding hatiku,dengarkan aku bicara.Kemarin pikiranku adalah sebuah perahu yang dilambungkan oleh gelombang samudra dan dikendalikan oleh tiupan angin dari pantai ke pantai.Perahu pikiranku tak ada isinya kecuali 7 cawan yang dipenuhi aneka warna,secemerlang warna pelangi.Datang saatnya aku lelah berjalan diatas laut dan berkata,"Aku akan pulang dengan perahu pikiranku yang kosong ke dermaga kota tempat aku dilahirkan."
Aku mulai menghias dinding perahuku dengan warna-warna mentari kuning,musim semi hijau,kubah langit biru dan senja berwarna merah.Di layar dan dikemudinya kugambari jasad yang menakjubkan,dengan mata yang mempesona dan pandangan yang menyenangkan.Tatkala pekerjaanku hampir selesai,perahu pikiranku menyerupai pandangan seorang Nabi, beredar dikeluasan laut dan langit.
Aku masuki dermaga kotaku,dan orang-orang keluar untuk bersua denganku dengan ucapan terima kasih dan pujian. Mereka mengarakku ke dalam kota,menabuh genderang dan meniup terompet sang kala.
Mereka lakukan ini semua karena diluar perahuku dihiasi dengan gemerlap,akan tetapi tak seorang pun mau masuk kedalam perahuku.Tak seorang bertanya apa yang kau bawa dari laut yang jauh.Tak seorang tahu kenapa aku pulang ke der maga dengan perahu kosongku.Lalu aku berkata pada diriku,"Aku telah menyusahkan orang-orang,dan dengan 7 cawan itu aku telah menipu mata mereka."Sesudah itu aku naik ke perahu pikiranku dan untuk kedua kalinya manuju laut.
Aku telah berlayar ke pulau-pulau kecil-mengecil di Timur dan memenuhi perahuku dengan asap aromatheraphy,gaha ru dan harum cendana.Aku berlayar ke pulau-pulau kecil-mengecil di Barat,dengan membawa pulang emas dan batu delima, juga segala logam-logam mulia.Dari pulau-pulau kecil-mengecil di Utara,aku pulang dengan membawa sutra dan busana sula man hitam.Dari pulau-pulau kecil-mengecil di Selatan,aku pulang dengan membawa pedang-pedang yang tajam,tombak-tom bak yang panjang dan segla jenis senjata.Kuisi perahu pikiranku dengan perbendaharaan dan rasa ingin tahu dari bumi,lalu kembali ke dermaga kotaku,seraya berkata,"Orang-orang akan memujiku dan itu sudah selayaknya.Mereka akan mengaraku masuk ke kota dengan bersenandung dan meniup terompet,dan itu sudah sepantasnya."
Namun,tatkala aku mencapai dermaga tak seorang pun keluar untuk menemuiku.Tatkala aku memasuki jalan-jalan kota,tak seorang memperdulikanku.Aku berdiri tegak di alun-alun memaki mereka yang pernah kubawakan buah-buahan dan kekayaan bumi lainnya.Orang-orang itu menatapku,mulut mereka penuh cemooh,muka mereka penuh ejekan.Lalu,mereka pun manjauhiku dalam pedih dan perih.
Aku pulang ke dermaga,kecewa & cemas.Lebih lama kupandangi perahu kecilku daripada menyaksikan perjuangan& cita-cita yang tersimpan dalam jiwaku.Aku tersedu,"Gelombang samudra telah membasuh cat dan dinding-dinding perahuku, meninggalkan belulang yang sudah memutih dan sia-sia."Angin,badai,dan panas mentari telah menghapuskan jasad di layar, membuatnya laksana tersaput debu gulita.
Telah kurajut rasa penasaran akan kekayaan bumi ke dalam bahtera yang mengapung di atas permukaan air.Aku pulang kekampungku,akan tetapi orang-orang itu menampikku sebab mata orang-orang itu menampikku sebab mata orang-orang itu hanya mampu menyaksikan kulitnya saja.
Pada saat itu,kutinggalkan biduk pikiranku dan pergi ke kota kematian.Ak duduk diantara makam-makam berkapur, menghayati misteri semua ini.Heninglah jiwaku,sampai fajar menyingsing.Tenanglah,sebab badai yang gelisah mengejek ke dalaanmu dan gua-gua lembah takkan menggemakan suaramu.
Heninglah jiwaku sampai fajar,maka fajar akan merangkulmu penuh kerinduan.Fajar merah telah merekah,hatiku.Bica ralah jika kau mampu bicara.Inilah iring-iringan fajar,hatiku!Apakah malam yang hening akan tertahan di kedalaman hatimu untuk bersenandung menyambut fajar?
Lihatlah,sekawanan merpati dan camar berpencar melintasi langit.Akankah kebencian malam mengusikmu untuk terbang tinggi bersama mereka?Penggembala menggiring binatang ternak mereka dari kandang ke padang.Akankah hantu- hantu malam mengusikmu untuk mengikuti orang-orang itu ke padang-padang savana yang hijau?Para lelaki dan perawan lari-lari menuju taman madu.Kenapa kamu tidak bangun dan berjalan bersama mereka?
Bangunlah hatiku,bangun dan berjalanlah bersama embun fajar,sebab malam telah lalu.Hantu-hantu malam telah sirna dengan mimpi-mimpi pekatnya.Bangunlah hatiku dan nyanyikan suaramu dalam lagu,sebab hanya anak-anak kegela pan sajalah yang tak berhasil meninggal dengan syair simponi pujian sang fajar.

Selasa, Agustus 11, 2009

Pada musim kemarau,2006
Hari kemarin telah berlalu.Siang ini pun telah berpendar.Alam sedang bersiap-siap tidur dan mentari menarik sinar pera knya dari ufuk timur.Larut malam pun tiba dan cahaya surga menaburkan benih-benih di dalam kegelapan pada hari berikutnya.
Mata sang permaisuri bosan terhadap waktu.Pikirannya letih akibat arak-arakan hantu yang berbaris dalam keheningan yang mengerikan di tengah tumpukan peti harta karun itu.Ia letakkan kepalanya di atas lengannya dan tidur,menangkap inderanya dengan ujung-ujung selimutnya bagaikan mega yang halus menyentuh permukaan telaga yang tenang.Ia lupa akan dirinya yang ada dan berjumpa dengan Victo yang maya.Jutaan mimpi serta idealisme yang lebih kuasa daripada hukum serta ajaran manu sia.Lingkaran cinta melebar di depan matanya dan misteri-misteri kehidupan yang tersembunyi secara gradual menjadi jelas baginya.
Batinnya meninggalkan roda waktu yang menggilas kehampaan.Ia berdiri tegak sendirian di depan pikiran-pikiran klasik dan ide-ide yang mengkristal.Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya,Talitha sadar akan penyebab kosongnya rohani yang telah melanda masa mudanya.Kekosongan yang telah menutup jurang di antara manis dan pahitnya kehidupan.Dahaga yang menyatukan ke dalam kecukupan diri,keluhan-keluhan kasih sayang dengan hening kepuasaan.Kerinduan yang tak akan dapat dipuaskan oleh kemuliaan dunia atau dibengkokkan oleh berlalunya zaman,Talitha merasakan desahan kasih sayang yang aneh dan semacam kelembutan di dalam dirinya yang merupakan Kenangan,yang hidup sendiri bagaikan dupa yang ditempatkan di atas kayu bakar perapian.Itu merupakan kasih yang ajaib, yang dengan jari-jemari halus telah menyentuh qalbu sang Permaisuri bagaikan jari-jemari musisi menyentuh senar-senar dawai.Itu adalah kuasa baru yang memancar dari yang tiada dan tumbuh dengan kuat,merangkul dirinya yang sesungguhnya dan memenuhi ruhnya dengan kasih yang kuat,menyakitkan sekaligus terasa manis.
Talitha melemparkan pandangan ke peti perhiasannya itu dan matanya yang berat menjadi prihatin tatkala ia memba yangkan suatu tempat indah yang telah musnah itu.Dulu berdiri tegak sebuah pohon yang perkasa,yang tak akan dapat dirobohkan.Matanya tak bergerak dan jantungnya berdebar-debar.Dan bagaikan orang buta yang sontak mendapatkan penglihatannya kembali,ia mulai melihat,berpikir dan merenung.Ia ingat diantara serta kemenyan-kemenyan warna perak yang mengelilingi daerah sekitar pohon berdiri.Ia saksikan segalanya itu di depannya & merasakan ketaktampakannya dalam palung hatinya yang tercekik.
Namun,kenangan saja hanyalah membawakan gema suara yang terdengar dulu sekali.Lalu apakah hubungan aneh diantara kenangan-kenangan kuat ini dengan kehidupan nyata di masa lalu,dari seorang lelaki bersahaja yang dilahirkan di sebuah tenda,yang menghabiskan kehidupannya dengan belajar dan berusaha?
Talitha bangun dan berjalan di tengah potongan kayu besar itu.Kenangan yang menyeringai sontak menyingkapkan selimut kabut dari pikirannya.Tatkala ia sampai di pintu masuk istana yang sangat besar itu,ia berhenti.Seolah-olah ada satu daya ghaib yang memaku kaki dan mencengkramnya.Tatkala ia merunduk kebawah,ia menemukan sebuah patung yang hancur berantakan di tanah.Ia bebaskan dari cengkraman ghaib dan seketika itu juga mata batinnya tercurah membasahi bumi dengan darah menetes dari luka yang dalam.Hatinya bergelora bagaikan gelombang pasang yang mengalir.Ia menarik nafas panjang dengan pahit dan menangis tersedu-sedu sedih,sebab ia merasakan keasingan yang meremukkan dan kesen dirian yang menikam,tegak sebagai jurang tak berdasar di antara hatinya dengan qalbu yang memisahkan sebelum ia mema suki kehidupan.
Sang permaisuri merasakan bahwa batinnya adalah obor yang telah dipisahkan Allah dari dirinya sebelum bentang dunia dimulai.Ia bayangkan sentuhan lembut dari sayap-sayap halus mengelilingi hatinya yang berkobar dan suatu kasih yang besar menguasainya.Kasih yang kuasanya memisahkan pikiran dari dunia dimensi dan ukuran.Kasih yang tetap ngomong tatkala lidah kehidupan dijadikan bisu.Kasih yang berdiri tegak sebagai mercusuar untuk menunjukkan jalan,menun tun tanpa terang yang benderang.Kasih Allah yang turun di larut malam itu ke qalbu Talitha telah memberikan kasih sayang yang pahit-pahit getir,bagaikan duri yang tumbuh di tangkai kembang-kembang mawar yang berkembang indah.
Akan tetapi,siapakah kekasih ini dan dari manakah ia datang?Apakah yang ia kehendaki dari seorang anak miskin buah cinta seorang mandor yang menemaninya mengabadikan kebersamaan dan cinta tulus setia dan ikatan janji setia mere ka dengan bersujud di tengah reruntuhan pohon itu?Apakah ia benih yang ditaburkan tanpa sadar di relung qalbu seorang Permaisuri?Atau berkas cahaya yang timbul dari balik gelap mega untuk menerangi ranah kehidupan?Apakah ia halusinasi yang berjalan mengendap-endap mendekati sang Permaisuri di malam yang hening untuk mengucapkan selamat malam? Apakah ia fakta yang ada semenjak permulaan,dan akan selalu ada hingga bentang zaman digulung?
Sang Permaisuri tak kuasa memejamkan matanya yang basah berlinang air mata dan menjulurkan tangannya bagai kan pengemis tua yang kesakitan.Ia lalu berseru,"Siapakah kau yang berdiri tegak dekat dengan hatiku tetapi jauh dari peng lihatanku.Kau bagaikan tembok tebal diantara jiwaku dengan diriku yang sesungguhnya,mengingat hariku yang sekarang dengan masa laluku yang sengaja terlupakan?Apakah kau duri dari kekekalan yang ingin menunjukkan padaku kehidupan yang sia-sia dan kelemahan umat manusia?Atau ruh iblis yang timbul dari celah-celah bumi untuk memperbudak aku dan menjadikanku objek caci-maki di antara para muda-mudi negriku?Siapakah kau dan apakah kuasa yang aneh ini,yang pernah mematikan dan menghidupkan hatiku?Siapakah aku dan apakah diri yang asing kusebut "Diriku"ini?Apakah air kehidupan yang kuminum menjadikan malaikatku menyaksikan dan mendengar misteri-misteri alam semesta,atau apakah itu sekedar pahitnya bratawali yang meracuniku dan membutakan mataku dari diriku sendiri?"
Talitha terdiam bisu beku.Sementara bimbang ragunya meningkat dan ruhnya bersorak-sorai.Lalu ia meneruskan." Wahai yang diungkapkan jiwa dan disembunyikan oleh malam.Wahai ruh yang indah,yang melayang-layang di kubah langit. Kau telah melewatiku bagaikan hembusan angin,membawakan wewangian kembang surga bagi diriku yang lapar,telah kau sentuh indraku dan membuatnya gelisah serta gemetar bagaikan pucuk dedaunan cinta.Relakanlah aku melihatmu sekarang bila kau manusia,atau perintahkanlah tidur untuk menutup mataku agar aku dapat menyaksikan keindahanmu lewat batinku.
Relakanlah aku menyentuhmu,relakanlah aku mendengar suaramu.Singkapkanlah selimut canda yang menutupi keseluruhan kehendakku,dan musnahkanlah tembok yang menyembunyikan tali ilahiyah dari mataku,lalu pasanglah sepasang sayap pada diriku agar aku bisa terbang tinggi di belakangmu menuju kamar-kamar alam semesta yang tinggi.Atau sihirlah mataku agar aku dapat mengikutimu menuju penyergaoan iblis bila kau merupakan salah satu pengantin putri mereka.Bila kau layak, letakkanlah tanganmu pada hatiku dan kuasailah aku."
Talitha membisikkan kata-kata ini ke dalam kegelapan yang menembus dan di hadapannya berkeliaran lelembut dari dunia malam,seolah-olah mereka adalah uap dari gejolak jiwanya yang mendidih.Pada tembok-tembok istana permaisuri itu ia bayangkan gambar-gambar ajaib yang dilukis dengan kuas pelangi dari kubah langit.Begitulah.
Satu jam berlalu,sementara sang permaisuri mencucurkan air matanya & menikmati dengan jantung berdebar-debar bagaikan kuda pacuan.Pandangannya menembus benda-benda seolah-olah ia sedang mengamati kehidupannya yang perla han-lahan lenyap dan digantikan oleh sebuah halusinasi.Lucu dalam keindahannya dan mengerikan dalam keelokannya.Lak sana seorang Rasul yang menghayati bintang-bintang di langit,ia rasakan ruhnya meninggalkannya dan menggali kedalam istana itu,mencari-cari penggalan kehidupannya yang berharga tetapi tak dikenalnya,yang hilang di antara reruntuhan.Bintang fajar telah menyingsing dan keheningan meluap bersama hembusan angin selatan.
Sinar terang yang pertama berpacu menerangi langit dan langit pun tersenyum laksana seorang pemimpin batalyon yang menyaksikan baret pasukannya bersiap.Burung-burung berceruit dari tempat persembunyian mereka di celah-celah ranting bagaikan seruling gembala dan memasuki ruangan pagi itu,menyanyikan doa-doa pujaan mereka.Talitha menaruh tangannya di dahi,merunduk ke bawah.Laksana Adam,tatkala Allah SWT membuka matanya dengan nafas Maha Kuasa, sang Permaisuri menyaksikan sosok-sosok baru,asing dan melenakan.
Beberapa waktu kemudian,Talitha kembali merasa bahwa jantungnya berdebar-debar dan ruhnya gemetar keras,keli hatan dalam tarikan nafasnya yang memburu.Laksana seorang ibu yang sontak terjaga dari tidurnya akibat jeritan anaknya,ia bangun berdiri tegak.Sementara matanya tertarik kepadanya,ia menyaksikan seorang lelaki membawa jun kecil dari tanah liat di pundaknya,perlahan-lahan mendekati sungai itu dari seberang.Tatkala ia sampai di tepi sungai itu & mencondongkan tubuhnya untuk mengisi junnya,ia melirik ke seberang&matanya bersua pandang dengan mata sang Permaisuri.
Ia lupa diri,menjerit,menjatuhkan junnya dan buru-buru mundur.Lalu ia berpaling memandang Talitha dengan rasa tak yakin.5 menit berlalu,yang detik-detiknya ibarat dian-dian yang menerangi qalbu serta ubun-ubun mereka,dan keheningan membawakan kangen samar-samar,mengungkapkan pada mereka bayangan-bayangan dan pemandangan-pemandangan jauh dari sungai serta pepohonan rimbun disana.Mereka mendengar satu sama lain dalam sudut mata penuh pengertian,men dengarkan dengan penuh linangan air mata,keluhan qalbu serta jiwa masing-masing hingga keduanya benar-benar saling mengenal dan jatuh cinta.
Talitha,masih tertarik oleh kuasa misterius,langsung menyeberangi sungai itu dan mendekati lelaki itu,merangkulnya lama sekali.Indah,seolah-olah manisnya belaian Talitha meluruhkan kehendaknya.Lelaki itu tak bergerak & sentuhan lengan Talitha mencuri kekuatan energinya.Lelaki itu berserah kepada sang Permaisuri laksana harumnya melati berserah kepada getaran angin,membawanya ke langit luas.Ia rebahkan kepalanya di dada Victo laksana seorang yang tersiksa rindu,yang telah menemukan ketenangan.Ia menarik nafas dalam-dalam.Helaan nafas yang mengabarkan lahirnya kembali kebahagiaan di dalam qalbu yang tercabik-cabik dan menyebarkan revolusi bersama sayap-sayap yang telah naik sesudah terluka dan terikat pada bumi.Sang Permaisuri mengangkat kepalanya dan melirik dengan sudut matanya pada Victo yang tampan perka sa.Pandangan manusia yang dalam keheningan yang laur biasa,mengecilkan arti kata-kata yang digunakan di antara umat manusia,luapan jiwa yang menyampaikan pesan begitu banyak lewat bahasa jiwa yang tak terucapkan.Ia laksana seseorang yang menerima kasih bukan sebagai ruh dalam banyaknya kata-kata,melainkan sebagai pertemuan kembali antara bumi dan langit yang telah dipisahkan Allah SWT sepanjang abad.
Pasangan yang sedang di mabuk asmara ini berjalan di tengah pepohonan rindang dan kesatuan dua diri mereka mengungkapkan penyatuan mereka.Mata yang menyaksikan demi kemuliaan dan kebahagiaan.Pendenagr yang baik terhadap wahyu kasih yang luar biasa.Domba-domba tetap makan rumput dan burung-burung di langit tetap melayang-layang di atas kepala mereka,menyanyikan simponi pagi,menyusul kekosongan malam.Tatkala mereka sampai di ujung lembah, mentari pun timbul,menebarkan busana keemasan di atas lembah-lembah dan perbukitan,dan mereka duduk disamping se buah batu tempat kembang violet bersembunyi.Victo menatap kedalam sepasang mata sang Permaisuri yang hitam semen tara angin membelai rambutnya,seolah-olah rambutnya yang kemilau itu merupakan ujung-ujung jari yang mendambakan kecupan manis.Ia rasakan seolah-olah suatu keajaiban serta kelembutan yang kuat menyentuh tangannya di luar kehendak nya dan dengan suara yang damai serta menyenangkan ia berkata,"Allah telah menyatukan jiwa kita kedalam kehidupan lain,agar kita dapat menikmati suka-cita cinta dan nafsu masa muda,Kekasihku."
Sang Permaisuri memejamkan matanya,seolah-olah suaranya yang merdu membawakan gambar-gambar hidup yang pernah dilihatnya dan ia rasakan sepasang sayap yang tak kasat mata membawanya dari temapt itu dan menempatkannya pada sebuah kamar yang asing di tepi sebuah ranjang tempat berbaring seorang Lelaki yang penuh dengan karismanya.Ia mencucurkan air mata,lalu membuka matanya dan menemukan Victo yang sama duduk di sebelahnya.Pada bibirnya tersung ging sebuah senyuman.Matanya bersinar dengan berkas-berkas kehidupan.Muka Talitha menjadi terang dan hatinya bugar kembali.Ketakutannya menarik diri pelan-pelan hingga ia benar-benar lupa kepada masa lalunya serta segala keprihatinannya
Kedua kekasih ini pun berangkulan tangan dan meminum madu yang manis hingga keduanya tertidur beralaskan tanah dan beratapkan langit ditemani Lilian dan Customiz.....

Kubah Langit

Pada musim kemarau,2006
Hari kemarin telah berlalu.Siang ini pun telah berpendar.Alam sedang bersiap-siap tidur dan mentari menarik sinar pera knya dari ufuk timur.Larut malam pun tiba dan cahaya surga menaburkan benih-benih di dalam kegelapan pada hari berikutnya.
Mata sang permaisuri bosan terhadap waktu.Pikirannya letih akibat arak-arakan hantu yang berbaris dalam keheningan yang mengerikan di tengah tumpukan peti harta karun itu.Ia letakkan kepalanya di atas lengannya dan tidur,menangkap inderanya dengan ujung-ujung selimutnya bagaikan mega yang halus menyentuh permukaan telaga yang tenang.Ia lupa akan dirinya yang ada dan berjumpa dengan Victo yang maya.Jutaan mimpi serta idealisme yang lebih kuasa daripada hukum serta ajaran manu sia.Lingkaran cinta melebar di depan matanya dan misteri-misteri kehidupan yang tersembunyi secara gradual menjadi jelas baginya.
Batinnya meninggalkan roda waktu yang menggilas kehampaan.Ia berdiri tegak sendirian di depan pikiran-pikiran klasik dan ide-ide yang mengkristal.Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya,Talitha sadar akan penyebab kosongnya rohani yang telah melanda masa mudanya.Kekosongan yang telah menutup jurang di antara manis dan pahitnya kehidupan.Dahaga yang menyatukan ke dalam kecukupan diri,keluhan-keluhan kasih sayang dengan hening kepuasaan.Kerinduan yang tak akan dapat dipuaskan oleh kemuliaan dunia atau dibengkokkan oleh berlalunya zaman,Talitha merasakan desahan kasih sayang yang aneh dan semacam kelembutan di dalam dirinya yang merupakan Kenangan,yang hidup sendiri bagaikan dupa yang ditempatkan di atas kayu bakar perapian.Itu merupakan kasih yang ajaib, yang dengan jari-jemari halus telah menyentuh qalbu sang Permaisuri bagaikan jari-jemari musisi menyentuh senar-senar dawai.Itu adalah kuasa baru yang memancar dari yang tiada dan tumbuh dengan kuat,merangkul dirinya yang sesungguhnya dan memenuhi ruhnya dengan kasih yang kuat,menyakitkan sekaligus terasa manis.
Talitha melemparkan pandangan ke peti perhiasannya itu dan matanya yang berat menjadi prihatin tatkala ia memba yangkan suatu tempat indah yang telah musnah itu.Dulu berdiri tegak sebuah pohon yang perkasa,yang tak akan dapat dirobohkan.Matanya tak bergerak dan jantungnya berdebar-debar.Dan bagaikan orang buta yang sontak mendapatkan penglihatannya kembali,ia mulai melihat,berpikir dan merenung.Ia ingat diantara serta kemenyan-kemenyan warna perak yang mengelilingi daerah sekitar pohon berdiri.Ia saksikan segalanya itu di depannya & merasakan ketaktampakannya dalam palung hatinya yang tercekik.
Namun,kenangan saja hanyalah membawakan gema suara yang terdengar dulu sekali.Lalu apakah hubungan aneh diantara kenangan-kenangan kuat ini dengan kehidupan nyata di masa lalu,dari seorang lelaki bersahaja yang dilahirkan di sebuah tenda,yang menghabiskan kehidupannya dengan belajar dan berusaha?
Talitha bangun dan berjalan di tengah potongan kayu besar itu.Kenangan yang menyeringai sontak menyingkapkan selimut kabut dari pikirannya.Tatkala ia sampai di pintu masuk istana yang sangat besar itu,ia berhenti.Seolah-olah ada satu daya ghaib yang memaku kaki dan mencengkramnya.Tatkala ia merunduk kebawah,ia menemukan sebuah patung yang hancur berantakan di tanah.Ia bebaskan dari cengkraman ghaib dan seketika itu juga mata batinnya tercurah membasahi bumi dengan darah menetes dari luka yang dalam.Hatinya bergelora bagaikan gelombang pasang yang mengalir.Ia menarik nafas panjang dengan pahit dan menangis tersedu-sedu sedih,sebab ia merasakan keasingan yang meremukkan dan kesen dirian yang menikam,tegak sebagai jurang tak berdasar di antara hatinya dengan qalbu yang memisahkan sebelum ia mema suki kehidupan.
Sang permaisuri merasakan bahwa batinnya adalah obor yang telah dipisahkan Allah dari dirinya sebelum bentang dunia dimulai.Ia bayangkan sentuhan lembut dari sayap-sayap halus mengelilingi hatinya yang berkobar dan suatu kasih yang besar menguasainya.Kasih yang kuasanya memisahkan pikiran dari dunia dimensi dan ukuran.Kasih yang tetap ngomong tatkala lidah kehidupan dijadikan bisu.Kasih yang berdiri tegak sebagai mercusuar untuk menunjukkan jalan,menun tun tanpa terang yang benderang.Kasih Allah yang turun di larut malam itu ke qalbu Talitha telah memberikan kasih sayang yang pahit-pahit getir,bagaikan duri yang tumbuh di tangkai kembang-kembang mawar yang berkembang indah.
Akan tetapi,siapakah kekasih ini dan dari manakah ia datang?Apakah yang ia kehendaki dari seorang anak miskin buah cinta seorang mandor yang menemaninya mengabadikan kebersamaan dan cinta tulus setia dan ikatan janji setia mere ka dengan bersujud di tengah reruntuhan pohon itu?Apakah ia benih yang ditaburkan tanpa sadar di relung qalbu seorang Permaisuri?Atau berkas cahaya yang timbul dari balik gelap mega untuk menerangi ranah kehidupan?Apakah ia halusinasi yang berjalan mengendap-endap mendekati sang Permaisuri di malam yang hening untuk mengucapkan selamat malam? Apakah ia fakta yang ada semenjak permulaan,dan akan selalu ada hingga bentang zaman digulung?
Sang Permaisuri tak kuasa memejamkan matanya yang basah berlinang air mata dan menjulurkan tangannya bagai kan pengemis tua yang kesakitan.Ia lalu berseru,"Siapakah kau yang berdiri tegak dekat dengan hatiku tetapi jauh dari peng lihatanku.Kau bagaikan tembok tebal diantara jiwaku dengan diriku yang sesungguhnya,mengingat hariku yang sekarang dengan masa laluku yang sengaja terlupakan?Apakah kau duri dari kekekalan yang ingin menunjukkan padaku kehidupan yang sia-sia dan kelemahan umat manusia?Atau ruh iblis yang timbul dari celah-celah bumi untuk memperbudak aku dan menjadikanku objek caci-maki di antara para muda-mudi negriku?Siapakah kau dan apakah kuasa yang aneh ini,yang pernah mematikan dan menghidupkan hatiku?Siapakah aku dan apakah diri yang asing kusebut "Diriku"ini?Apakah air kehidupan yang kuminum menjadikan malaikatku menyaksikan dan mendengar misteri-misteri alam semesta,atau apakah itu sekedar pahitnya bratawali yang meracuniku dan membutakan mataku dari diriku sendiri?"
Talitha terdiam bisu beku.Sementara bimbang ragunya meningkat dan ruhnya bersorak-sorai.Lalu ia meneruskan." Wahai yang diungkapkan jiwa dan disembunyikan oleh malam.Wahai ruh yang indah,yang melayang-layang di kubah langit. Kau telah melewatiku bagaikan hembusan angin,membawakan wewangian kembang surga bagi diriku yang lapar,telah kau sentuh indraku dan membuatnya gelisah serta gemetar bagaikan pucuk dedaunan cinta.Relakanlah aku melihatmu sekarang bila kau manusia,atau perintahkanlah tidur untuk menutup mataku agar aku dapat menyaksikan keindahanmu lewat batinku.
Relakanlah aku menyentuhmu,relakanlah aku mendengar suaramu.Singkapkanlah selimut canda yang menutupi keseluruhan kehendakku,dan musnahkanlah tembok yang menyembunyikan tali ilahiyah dari mataku,lalu pasanglah sepasang sayap pada diriku agar aku bisa terbang tinggi di belakangmu menuju kamar-kamar alam semesta yang tinggi.Atau sihirlah mataku agar aku dapat mengikutimu menuju penyergaoan iblis bila kau merupakan salah satu pengantin putri mereka.Bila kau layak, letakkanlah tanganmu pada hatiku dan kuasailah aku."
Talitha membisikkan kata-kata ini ke dalam kegelapan yang menembus dan di hadapannya berkeliaran lelembut dari dunia malam,seolah-olah mereka adalah uap dari gejolak jiwanya yang mendidih.Pada tembok-tembok istana permaisuri itu ia bayangkan gambar-gambar ajaib yang dilukis dengan kuas pelangi dari kubah langit.Begitulah.
Satu jam berlalu,sementara sang permaisuri mencucurkan air matanya & menikmati dengan jantung berdebar-debar bagaikan kuda pacuan.Pandangannya menembus benda-benda seolah-olah ia sedang mengamati kehidupannya yang perla han-lahan lenyap dan digantikan oleh sebuah halusinasi.Lucu dalam keindahannya dan mengerikan dalam keelokannya.Lak sana seorang Rasul yang menghayati bintang-bintang di langit,ia rasakan ruhnya meninggalkannya dan menggali kedalam istana itu,mencari-cari penggalan kehidupannya yang berharga tetapi tak dikenalnya,yang hilang di antara reruntuhan.Bintang fajar telah menyingsing dan keheningan meluap bersama hembusan angin selatan.
Sinar terang yang pertama berpacu menerangi langit dan langit pun tersenyum laksana seorang pemimpin batalyon yang menyaksikan baret pasukannya bersiap.Burung-burung berceruit dari tempat persembunyian mereka di celah-celah ranting bagaikan seruling gembala dan memasuki ruangan pagi itu,menyanyikan doa-doa pujaan mereka.Talitha menaruh tangannya di dahi,merunduk ke bawah.Laksana Adam,tatkala Allah SWT membuka matanya dengan nafas Maha Kuasa, sang Permaisuri menyaksikan sosok-sosok baru,asing dan melenakan.
Beberapa waktu kemudian,Talitha kembali merasa bahwa jantungnya berdebar-debar dan ruhnya gemetar keras,keli hatan dalam tarikan nafasnya yang memburu.Laksana seorang ibu yang sontak terjaga dari tidurnya akibat jeritan anaknya,ia bangun berdiri tegak.Sementara matanya tertarik kepadanya,ia menyaksikan seorang lelaki membawa jun kecil dari tanah liat di pundaknya,perlahan-lahan mendekati sungai itu dari seberang.Tatkala ia sampai di tepi sungai itu & mencondongkan tubuhnya untuk mengisi junnya,ia melirik ke seberang&matanya bersua pandang dengan mata sang Permaisuri.
Ia lupa diri,menjerit,menjatuhkan junnya dan buru-buru mundur.Lalu ia berpaling memandang Talitha dengan rasa tak yakin.5 menit berlalu,yang detik-detiknya ibarat dian-dian yang menerangi qalbu serta ubun-ubun mereka,dan keheningan membawakan kangen samar-samar,mengungkapkan pada mereka bayangan-bayangan dan pemandangan-pemandangan jauh dari sungai serta pepohonan rimbun disana.Mereka mendengar satu sama lain dalam sudut mata penuh pengertian,men dengarkan dengan penuh linangan air mata,keluhan qalbu serta jiwa masing-masing hingga keduanya benar-benar saling mengenal dan jatuh cinta.
Talitha,masih tertarik oleh kuasa misterius,langsung menyeberangi sungai itu dan mendekati lelaki itu,merangkulnya lama sekali.Indah,seolah-olah manisnya belaian Talitha meluruhkan kehendaknya.Lelaki itu tak bergerak & sentuhan lengan Talitha mencuri kekuatan energinya.Lelaki itu berserah kepada sang Permaisuri laksana harumnya melati berserah kepada getaran angin,membawanya ke langit luas.Ia rebahkan kepalanya di dada Victo laksana seorang yang tersiksa rindu,yang telah menemukan ketenangan.Ia menarik nafas dalam-dalam.Helaan nafas yang mengabarkan lahirnya kembali kebahagiaan di dalam qalbu yang tercabik-cabik dan menyebarkan revolusi bersama sayap-sayap yang telah naik sesudah terluka dan terikat pada bumi.Sang Permaisuri mengangkat kepalanya dan melirik dengan sudut matanya pada Victo yang tampan perka sa.Pandangan manusia yang dalam keheningan yang laur biasa,mengecilkan arti kata-kata yang digunakan di antara umat manusia,luapan jiwa yang menyampaikan pesan begitu banyak lewat bahasa jiwa yang tak terucapkan.Ia laksana seseorang yang menerima kasih bukan sebagai ruh dalam banyaknya kata-kata,melainkan sebagai pertemuan kembali antara bumi dan langit yang telah dipisahkan Allah SWT sepanjang abad.
Pasangan yang sedang di mabuk asmara ini berjalan di tengah pepohonan rindang dan kesatuan dua diri mereka mengungkapkan penyatuan mereka.Mata yang menyaksikan demi kemuliaan dan kebahagiaan.Pendenagr yang baik terhadap wahyu kasih yang luar biasa.Domba-domba tetap makan rumput dan burung-burung di langit tetap melayang-layang di atas kepala mereka,menyanyikan simponi pagi,menyusul kekosongan malam.Tatkala mereka sampai di ujung lembah, mentari pun timbul,menebarkan busana keemasan di atas lembah-lembah dan perbukitan,dan mereka duduk disamping se buah batu tempat kembang violet bersembunyi.Victo menatap kedalam sepasang mata sang Permaisuri yang hitam semen tara angin membelai rambutnya,seolah-olah rambutnya yang kemilau itu merupakan ujung-ujung jari yang mendambakan kecupan manis.Ia rasakan seolah-olah suatu keajaiban serta kelembutan yang kuat menyentuh tangannya di luar kehendak nya dan dengan suara yang damai serta menyenangkan ia berkata,"Allah telah menyatukan jiwa kita kedalam kehidupan lain,agar kita dapat menikmati suka-cita cinta dan nafsu masa muda,Kekasihku."
Sang Permaisuri memejamkan matanya,seolah-olah suaranya yang merdu membawakan gambar-gambar hidup yang pernah dilihatnya dan ia rasakan sepasang sayap yang tak kasat mata membawanya dari temapt itu dan menempatkannya pada sebuah kamar yang asing di tepi sebuah ranjang tempat berbaring seorang Lelaki yang penuh dengan karismanya.Ia mencucurkan air mata,lalu membuka matanya dan menemukan Victo yang sama duduk di sebelahnya.Pada bibirnya tersung ging sebuah senyuman.Matanya bersinar dengan berkas-berkas kehidupan.Muka Talitha menjadi terang dan hatinya bugar kembali.Ketakutannya menarik diri pelan-pelan hingga ia benar-benar lupa kepada masa lalunya serta segala keprihatinannya
Kedua kekasih ini pun berangkulan tangan dan meminum madu yang manis hingga keduanya tertidur beralaskan tanah dan beratapkan langit ditemani Lilian dan Customiz.....

Minggu, Agustus 09, 2009

Angin Kabut

Mentari pagi telah datang setelah malam yang penuh perenungan dan badai pasti berlalu.Langit terang,pohon-pohon,burung- burung dan alam semesta bersuka cita mandi sinar matahari.Talitha berjalan pulang ke istananya setelah membuang sedikit kalori tubuh pada pagi hari.Dalam perjalanan pulang itu,sang permaisuri merasakan bangunnya jiwa seperti yang telah dikatakan oleh Victo.Gemetarnya tubuh sang permaisuri pasti kelihatan.Saat Talitha tenang kembali,yang dia rasakan hanyalah keindahan dan kekaguman.
Ketika sampai di daerah keramaian dan menyaksikan perbuatan serta suara-suara mereka,aku berhenti dan berkata dalam hati,"Ya,bangunnya jiwa merupakan sesuatu yang wajib bagi manusia,bahkan mungkin tujuan hidup itu sendiri.Tapi,bukankah peradaban dengan segala ketakaburannya,justru menjadi salah satu sebab bangunnya jiwa itu?Aku ragu bagaimana kita dapat survive dari badai yang menerjang dan dari suatu peradaban,sedangkan keberadaannya itu adalah bukti bagi kebenarannya? Mungkin peradaban yang sekarang ini hanyalah sebuah peristiwa yang telah berlalu begitu saja,akan tetapi hukum yang kekal membuat peristiwa itu menjadi anak tangga untuk meniti jalan menuju hakikat kebahagiaan."
Samapi saat ini aku tak pernah lagi menyaksikan lelaki miskin itu.Upayaku untuk merawat penyakit peradaban telah mem buangku dari negriku di akhir bulan Oktober tahun 2007 itu ke sebuah negri jauh yang badainya tak seberapa hebat.Sang Permaisuri menjalani hidup baru di negri itu.Mungkin semacam gila hormat,sebab orang-orangnya pun sungguh menyedihkan.

Misteri Bintang Suci

Dua jam telah berlalu dan Victo berjalan lalu lalang di tengah taman.Sekali-sekali ia duduk di ayunan,menatap langit yang muram.Aku terdiam bisu,mencoba memahami kediamannya,menghayati desahan dan kesunyian ini.Tatkala hampir lewat tengah malam,ia mendekati Talitha dan menatap wajahnya lama sekali dan terdiam,seolah-olah hendak menelaah gambaran manusia di hadapnya dalam ingatannya untuk orang yang telah diberinya misteri kesunyian dan kebimbangannya.Lantas is berkata pelan,"Sekarang aku hendak keluar dan berjalan bersama bintang.Ini merupakan satu malam yang aku impikan disetiap langkahku dan nafasku menghalau musim kering dan penghujan menyambut silih berganti.Engkaulah bintangku dan merekalah kita.Kunamakan ku customiz dan kau Lilian.Dua bintang yang tak mungkin kan padam di hati ku dan kita.Bersediakah kau bintangku sang Lilian menjadikanmu raganya dan jiwanya untukku?"
Setelah ia selesai berkata,ia tertunduk dengan pandangan kosong dan kaku.Talitha melepaskan syal hitam yang dipakainya dan dipakaikannya pada Victo sambil tersenyum,"Kuharap kau membuka pintu hati itu bila aku mengunjunginya malam ini.Mulai besok aku akan menyebutnya Lincoz ( Lilian & Customiz )."
Laki-laki itu berdiri dengan penuh gairah dan tersungginglah senyum dibibir jejakanya itu,"Terima kasih."Lalu Victo berjalan menuju gubug persinggahannya dan menunjuk pada sepasang bintang milik kita hari ini dan selamanya.Ia berkata,"Pabila saja badai mengejutkanmu nanti saat berada di daerah ini,jangan ragu untuk mencari perlindungan ke gubug itu dan ketuklah pintu ini dengan kau mengenang mereka.Hempaskanlah tubuhmu beratapkan langit & beralaskan tanah untuk memberikan mereka kesempatan mengukirmu dan aku selamanya.Tapi,kuharap jiwamu akan memahami badai & tak takut padanya.Good Night,Lilian."
Sosoknya berlalu ditelan malam.Tatkala aku berjalan menuju istana ku untuk menyaksikan ke arah mana ia pergi,kegela pan telah benar-benar menyembunyikannya.Aku terdiam bisu mendengarkan detak langkah kakinya diatas kerikil taman ini sesaat lamanya.

Jumat, Agustus 07, 2009

GaLe

Talitha adalah seorang gadis,berumur dua belasan tahun.Namun dia telah merasakan pahitnya kehidupan dan berupaya menyusun kembali serpihan-serpihan kasih yang diselimuti kerapuhan dari sang pecinta sedang didalamnya bernaung sang Ratu kekasih Baginda Raja menjaga sang Permata hati dengan segala kepiluan dan kemegahannya.
Warga dari rumput sebelah sekitarnya saling mempersoalkan mengenai siapa dia sesungguhnya.Sebagian ada orang yang mengira bahwa ia berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang.Akan tetapi ada juga orang yang mengatakan bahwa ia patah qalbu dengan seorang perjaka dan Sang Raja yang teramat dicintainya.Mereka tidak tahu bagaimana cinta romantis dan cinta sejati tanpa butuh pamrih hanya secercah senyum dan setitik air susu tidak untuk dikecewakan.Oleh sebab itu dia pergi untuk menjauh dari momok yang slalu menghantuinya dilingkup kehampaan istana Sang Ratu hanya untuk mencari ketenangan batin.
Orang lain lagi berkata bahwa ia adalah seorang kupu-kupu yang sedang melarikan diri dari jeratan kepompong dan kebisingan kota untuk mendalami qalbu dan perasaannya dalam desahan angin menyertai bait-bait sajak.Yang lain lagi berkata,bahwa gadis itu adalah gadis biasa yang tidak memperdulikan lagi dengan segala bentuk duniawi.Namun,ada juga sebagian yang dengan cuek berkata,"Dia orang gila" atau "Anak brokenhome"
Permaisuri sendiri tak sependapat dengan praduga-praduga itu,sebab dia tahu bahwa setiap manusia mengandung misteri-misteri gelap yang takkan terpecahkan oleh suatu praduga.Sang permaisuri ingin sekali bersitatap dengan orang asing ini,dan mengobrol dengannya.Beberapa kali dia berupaya mendekatinya untuk mencari keterangan tentang bagaimana sesungguhnya Baginda Raja.Namun ayahanda hanya melirik dan mengusirku dengan keringan tangannya terasa kasar disertai beberapa kata-kata yang pedas.Pertama aku bersitatap dengannya,ia sedang berjalan di antara pilar-pilar singgasana sang Ratu.Dia menyapa ayahanda dengan sesopan mungkin.Lumayan,dibalasnya sapaan sang Permaisuri dengan senyum yang tersungging dan kecupan hangat pada pipi bantal sang Permaisuri,meski masam.Lalu Baginda berbalik dan bergegas menjauhi permaisuri.Kedua kalinya permaisuri mendapati Baginda Raja sedang berdiri tegak di bawah pohon perdu dekat gubugnya.Aku mendatanginya dan berkata,"Saya pernah mendengar,dulu ayahanda dan Ratu pernah membangun tempat kecil-mengecil ini pada waktu badan tak bertulang.Apakah ayahanda tahu mengenai hal itu??
Ia menyahut sambil menatapku,"Aku tak tahu untuk apa aku membangun gubug ini dab aku tak merasa perlu mengetahuinya.Untuk hari ini,menjadi tempat bernaungku dan membenahi sebuah lingkaran sakral yang permulaannya adlh akhir dan akhirnya adalah permulaan."Lantas ia membelakangi permaisuri dan dengan penuh penghinaan ia menambahkan,
"Kenapa tidak kamu tanyakan saja pada nenekmu?Ia jauh lebih tua dariku dan tahu lebih banyak tentang rasa malu dan tanggung jawab."Maka permaisuri menjauhinya,merasa terhina dan malu pada sikap tololnya,dia bertanya pada sang Raja,
"Apakah ketulusan dan air mata sang Ratu dan Permasuri juga bisa dipertanyakan?"
Dua tahun berlalu.Kehidupan Baginda Raja kekasih Ratu dan sang Permaisuri yang penuh teka-teki dan pengkhianatan itu semakin menyayat qalbu dan memenuhi mimpi burukku dengan Lara.........