Selasa, Agustus 11, 2009

Kubah Langit

Pada musim kemarau,2006
Hari kemarin telah berlalu.Siang ini pun telah berpendar.Alam sedang bersiap-siap tidur dan mentari menarik sinar pera knya dari ufuk timur.Larut malam pun tiba dan cahaya surga menaburkan benih-benih di dalam kegelapan pada hari berikutnya.
Mata sang permaisuri bosan terhadap waktu.Pikirannya letih akibat arak-arakan hantu yang berbaris dalam keheningan yang mengerikan di tengah tumpukan peti harta karun itu.Ia letakkan kepalanya di atas lengannya dan tidur,menangkap inderanya dengan ujung-ujung selimutnya bagaikan mega yang halus menyentuh permukaan telaga yang tenang.Ia lupa akan dirinya yang ada dan berjumpa dengan Victo yang maya.Jutaan mimpi serta idealisme yang lebih kuasa daripada hukum serta ajaran manu sia.Lingkaran cinta melebar di depan matanya dan misteri-misteri kehidupan yang tersembunyi secara gradual menjadi jelas baginya.
Batinnya meninggalkan roda waktu yang menggilas kehampaan.Ia berdiri tegak sendirian di depan pikiran-pikiran klasik dan ide-ide yang mengkristal.Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya,Talitha sadar akan penyebab kosongnya rohani yang telah melanda masa mudanya.Kekosongan yang telah menutup jurang di antara manis dan pahitnya kehidupan.Dahaga yang menyatukan ke dalam kecukupan diri,keluhan-keluhan kasih sayang dengan hening kepuasaan.Kerinduan yang tak akan dapat dipuaskan oleh kemuliaan dunia atau dibengkokkan oleh berlalunya zaman,Talitha merasakan desahan kasih sayang yang aneh dan semacam kelembutan di dalam dirinya yang merupakan Kenangan,yang hidup sendiri bagaikan dupa yang ditempatkan di atas kayu bakar perapian.Itu merupakan kasih yang ajaib, yang dengan jari-jemari halus telah menyentuh qalbu sang Permaisuri bagaikan jari-jemari musisi menyentuh senar-senar dawai.Itu adalah kuasa baru yang memancar dari yang tiada dan tumbuh dengan kuat,merangkul dirinya yang sesungguhnya dan memenuhi ruhnya dengan kasih yang kuat,menyakitkan sekaligus terasa manis.
Talitha melemparkan pandangan ke peti perhiasannya itu dan matanya yang berat menjadi prihatin tatkala ia memba yangkan suatu tempat indah yang telah musnah itu.Dulu berdiri tegak sebuah pohon yang perkasa,yang tak akan dapat dirobohkan.Matanya tak bergerak dan jantungnya berdebar-debar.Dan bagaikan orang buta yang sontak mendapatkan penglihatannya kembali,ia mulai melihat,berpikir dan merenung.Ia ingat diantara serta kemenyan-kemenyan warna perak yang mengelilingi daerah sekitar pohon berdiri.Ia saksikan segalanya itu di depannya & merasakan ketaktampakannya dalam palung hatinya yang tercekik.
Namun,kenangan saja hanyalah membawakan gema suara yang terdengar dulu sekali.Lalu apakah hubungan aneh diantara kenangan-kenangan kuat ini dengan kehidupan nyata di masa lalu,dari seorang lelaki bersahaja yang dilahirkan di sebuah tenda,yang menghabiskan kehidupannya dengan belajar dan berusaha?
Talitha bangun dan berjalan di tengah potongan kayu besar itu.Kenangan yang menyeringai sontak menyingkapkan selimut kabut dari pikirannya.Tatkala ia sampai di pintu masuk istana yang sangat besar itu,ia berhenti.Seolah-olah ada satu daya ghaib yang memaku kaki dan mencengkramnya.Tatkala ia merunduk kebawah,ia menemukan sebuah patung yang hancur berantakan di tanah.Ia bebaskan dari cengkraman ghaib dan seketika itu juga mata batinnya tercurah membasahi bumi dengan darah menetes dari luka yang dalam.Hatinya bergelora bagaikan gelombang pasang yang mengalir.Ia menarik nafas panjang dengan pahit dan menangis tersedu-sedu sedih,sebab ia merasakan keasingan yang meremukkan dan kesen dirian yang menikam,tegak sebagai jurang tak berdasar di antara hatinya dengan qalbu yang memisahkan sebelum ia mema suki kehidupan.
Sang permaisuri merasakan bahwa batinnya adalah obor yang telah dipisahkan Allah dari dirinya sebelum bentang dunia dimulai.Ia bayangkan sentuhan lembut dari sayap-sayap halus mengelilingi hatinya yang berkobar dan suatu kasih yang besar menguasainya.Kasih yang kuasanya memisahkan pikiran dari dunia dimensi dan ukuran.Kasih yang tetap ngomong tatkala lidah kehidupan dijadikan bisu.Kasih yang berdiri tegak sebagai mercusuar untuk menunjukkan jalan,menun tun tanpa terang yang benderang.Kasih Allah yang turun di larut malam itu ke qalbu Talitha telah memberikan kasih sayang yang pahit-pahit getir,bagaikan duri yang tumbuh di tangkai kembang-kembang mawar yang berkembang indah.
Akan tetapi,siapakah kekasih ini dan dari manakah ia datang?Apakah yang ia kehendaki dari seorang anak miskin buah cinta seorang mandor yang menemaninya mengabadikan kebersamaan dan cinta tulus setia dan ikatan janji setia mere ka dengan bersujud di tengah reruntuhan pohon itu?Apakah ia benih yang ditaburkan tanpa sadar di relung qalbu seorang Permaisuri?Atau berkas cahaya yang timbul dari balik gelap mega untuk menerangi ranah kehidupan?Apakah ia halusinasi yang berjalan mengendap-endap mendekati sang Permaisuri di malam yang hening untuk mengucapkan selamat malam? Apakah ia fakta yang ada semenjak permulaan,dan akan selalu ada hingga bentang zaman digulung?
Sang Permaisuri tak kuasa memejamkan matanya yang basah berlinang air mata dan menjulurkan tangannya bagai kan pengemis tua yang kesakitan.Ia lalu berseru,"Siapakah kau yang berdiri tegak dekat dengan hatiku tetapi jauh dari peng lihatanku.Kau bagaikan tembok tebal diantara jiwaku dengan diriku yang sesungguhnya,mengingat hariku yang sekarang dengan masa laluku yang sengaja terlupakan?Apakah kau duri dari kekekalan yang ingin menunjukkan padaku kehidupan yang sia-sia dan kelemahan umat manusia?Atau ruh iblis yang timbul dari celah-celah bumi untuk memperbudak aku dan menjadikanku objek caci-maki di antara para muda-mudi negriku?Siapakah kau dan apakah kuasa yang aneh ini,yang pernah mematikan dan menghidupkan hatiku?Siapakah aku dan apakah diri yang asing kusebut "Diriku"ini?Apakah air kehidupan yang kuminum menjadikan malaikatku menyaksikan dan mendengar misteri-misteri alam semesta,atau apakah itu sekedar pahitnya bratawali yang meracuniku dan membutakan mataku dari diriku sendiri?"
Talitha terdiam bisu beku.Sementara bimbang ragunya meningkat dan ruhnya bersorak-sorai.Lalu ia meneruskan." Wahai yang diungkapkan jiwa dan disembunyikan oleh malam.Wahai ruh yang indah,yang melayang-layang di kubah langit. Kau telah melewatiku bagaikan hembusan angin,membawakan wewangian kembang surga bagi diriku yang lapar,telah kau sentuh indraku dan membuatnya gelisah serta gemetar bagaikan pucuk dedaunan cinta.Relakanlah aku melihatmu sekarang bila kau manusia,atau perintahkanlah tidur untuk menutup mataku agar aku dapat menyaksikan keindahanmu lewat batinku.
Relakanlah aku menyentuhmu,relakanlah aku mendengar suaramu.Singkapkanlah selimut canda yang menutupi keseluruhan kehendakku,dan musnahkanlah tembok yang menyembunyikan tali ilahiyah dari mataku,lalu pasanglah sepasang sayap pada diriku agar aku bisa terbang tinggi di belakangmu menuju kamar-kamar alam semesta yang tinggi.Atau sihirlah mataku agar aku dapat mengikutimu menuju penyergaoan iblis bila kau merupakan salah satu pengantin putri mereka.Bila kau layak, letakkanlah tanganmu pada hatiku dan kuasailah aku."
Talitha membisikkan kata-kata ini ke dalam kegelapan yang menembus dan di hadapannya berkeliaran lelembut dari dunia malam,seolah-olah mereka adalah uap dari gejolak jiwanya yang mendidih.Pada tembok-tembok istana permaisuri itu ia bayangkan gambar-gambar ajaib yang dilukis dengan kuas pelangi dari kubah langit.Begitulah.
Satu jam berlalu,sementara sang permaisuri mencucurkan air matanya & menikmati dengan jantung berdebar-debar bagaikan kuda pacuan.Pandangannya menembus benda-benda seolah-olah ia sedang mengamati kehidupannya yang perla han-lahan lenyap dan digantikan oleh sebuah halusinasi.Lucu dalam keindahannya dan mengerikan dalam keelokannya.Lak sana seorang Rasul yang menghayati bintang-bintang di langit,ia rasakan ruhnya meninggalkannya dan menggali kedalam istana itu,mencari-cari penggalan kehidupannya yang berharga tetapi tak dikenalnya,yang hilang di antara reruntuhan.Bintang fajar telah menyingsing dan keheningan meluap bersama hembusan angin selatan.
Sinar terang yang pertama berpacu menerangi langit dan langit pun tersenyum laksana seorang pemimpin batalyon yang menyaksikan baret pasukannya bersiap.Burung-burung berceruit dari tempat persembunyian mereka di celah-celah ranting bagaikan seruling gembala dan memasuki ruangan pagi itu,menyanyikan doa-doa pujaan mereka.Talitha menaruh tangannya di dahi,merunduk ke bawah.Laksana Adam,tatkala Allah SWT membuka matanya dengan nafas Maha Kuasa, sang Permaisuri menyaksikan sosok-sosok baru,asing dan melenakan.
Beberapa waktu kemudian,Talitha kembali merasa bahwa jantungnya berdebar-debar dan ruhnya gemetar keras,keli hatan dalam tarikan nafasnya yang memburu.Laksana seorang ibu yang sontak terjaga dari tidurnya akibat jeritan anaknya,ia bangun berdiri tegak.Sementara matanya tertarik kepadanya,ia menyaksikan seorang lelaki membawa jun kecil dari tanah liat di pundaknya,perlahan-lahan mendekati sungai itu dari seberang.Tatkala ia sampai di tepi sungai itu & mencondongkan tubuhnya untuk mengisi junnya,ia melirik ke seberang&matanya bersua pandang dengan mata sang Permaisuri.
Ia lupa diri,menjerit,menjatuhkan junnya dan buru-buru mundur.Lalu ia berpaling memandang Talitha dengan rasa tak yakin.5 menit berlalu,yang detik-detiknya ibarat dian-dian yang menerangi qalbu serta ubun-ubun mereka,dan keheningan membawakan kangen samar-samar,mengungkapkan pada mereka bayangan-bayangan dan pemandangan-pemandangan jauh dari sungai serta pepohonan rimbun disana.Mereka mendengar satu sama lain dalam sudut mata penuh pengertian,men dengarkan dengan penuh linangan air mata,keluhan qalbu serta jiwa masing-masing hingga keduanya benar-benar saling mengenal dan jatuh cinta.
Talitha,masih tertarik oleh kuasa misterius,langsung menyeberangi sungai itu dan mendekati lelaki itu,merangkulnya lama sekali.Indah,seolah-olah manisnya belaian Talitha meluruhkan kehendaknya.Lelaki itu tak bergerak & sentuhan lengan Talitha mencuri kekuatan energinya.Lelaki itu berserah kepada sang Permaisuri laksana harumnya melati berserah kepada getaran angin,membawanya ke langit luas.Ia rebahkan kepalanya di dada Victo laksana seorang yang tersiksa rindu,yang telah menemukan ketenangan.Ia menarik nafas dalam-dalam.Helaan nafas yang mengabarkan lahirnya kembali kebahagiaan di dalam qalbu yang tercabik-cabik dan menyebarkan revolusi bersama sayap-sayap yang telah naik sesudah terluka dan terikat pada bumi.Sang Permaisuri mengangkat kepalanya dan melirik dengan sudut matanya pada Victo yang tampan perka sa.Pandangan manusia yang dalam keheningan yang laur biasa,mengecilkan arti kata-kata yang digunakan di antara umat manusia,luapan jiwa yang menyampaikan pesan begitu banyak lewat bahasa jiwa yang tak terucapkan.Ia laksana seseorang yang menerima kasih bukan sebagai ruh dalam banyaknya kata-kata,melainkan sebagai pertemuan kembali antara bumi dan langit yang telah dipisahkan Allah SWT sepanjang abad.
Pasangan yang sedang di mabuk asmara ini berjalan di tengah pepohonan rindang dan kesatuan dua diri mereka mengungkapkan penyatuan mereka.Mata yang menyaksikan demi kemuliaan dan kebahagiaan.Pendenagr yang baik terhadap wahyu kasih yang luar biasa.Domba-domba tetap makan rumput dan burung-burung di langit tetap melayang-layang di atas kepala mereka,menyanyikan simponi pagi,menyusul kekosongan malam.Tatkala mereka sampai di ujung lembah, mentari pun timbul,menebarkan busana keemasan di atas lembah-lembah dan perbukitan,dan mereka duduk disamping se buah batu tempat kembang violet bersembunyi.Victo menatap kedalam sepasang mata sang Permaisuri yang hitam semen tara angin membelai rambutnya,seolah-olah rambutnya yang kemilau itu merupakan ujung-ujung jari yang mendambakan kecupan manis.Ia rasakan seolah-olah suatu keajaiban serta kelembutan yang kuat menyentuh tangannya di luar kehendak nya dan dengan suara yang damai serta menyenangkan ia berkata,"Allah telah menyatukan jiwa kita kedalam kehidupan lain,agar kita dapat menikmati suka-cita cinta dan nafsu masa muda,Kekasihku."
Sang Permaisuri memejamkan matanya,seolah-olah suaranya yang merdu membawakan gambar-gambar hidup yang pernah dilihatnya dan ia rasakan sepasang sayap yang tak kasat mata membawanya dari temapt itu dan menempatkannya pada sebuah kamar yang asing di tepi sebuah ranjang tempat berbaring seorang Lelaki yang penuh dengan karismanya.Ia mencucurkan air mata,lalu membuka matanya dan menemukan Victo yang sama duduk di sebelahnya.Pada bibirnya tersung ging sebuah senyuman.Matanya bersinar dengan berkas-berkas kehidupan.Muka Talitha menjadi terang dan hatinya bugar kembali.Ketakutannya menarik diri pelan-pelan hingga ia benar-benar lupa kepada masa lalunya serta segala keprihatinannya
Kedua kekasih ini pun berangkulan tangan dan meminum madu yang manis hingga keduanya tertidur beralaskan tanah dan beratapkan langit ditemani Lilian dan Customiz.....

0 komentar:

Posting Komentar